The Global Voices Lingua project hopes to bring GV content to new linguistic audiences - Details

Also in:

Brunei: Sindrom Ali Baba

2008-12-19 @ 20:13 EST · Ditulis oleh Noor Hidayah

Diterjemahkan oleh Carolina · Lihat pos asli


Negara:
Brunei
Topik:
Seni Budaya, Bisnis, Ekonomi, Buruh
Bahasa:
Indonesia

 

Bisnis selalu bermunculan di berbagai sudut Brunei. Tiba-tiba saja, muncul rumah makan baru, usaha penganan ringan, penyanyi baru, juga pusat pertokoan, contohnya. Sebagai tambahan, sebagian besar usaha ini dimiliki oleh pengusaha Melayu Brunei - etnis dominan di negeri tersebut. Ini membuktikan bahwa etnis Melayu tidak mengalami kekurangan sumber daya dana untuk memulai usaha mereka, maupun kemampuan untuk menjadi pengusaha. Amat disayangkan, meski dengan adanya peningkatan drastis usaha dalam negeri yang dimulai oleh etnis Melayu, sebagian besar bisnis tersebut tidak dijalankan oleh pemiliknya. Rouge economist menyebut hal ini sebagai sindrom ‘Ali Baba':

“Mari kita lihat sindrom ‘Ali Baba' pada sektor usaha, misalnya. Kita ingin menjadi kaya dengan cepat dan mudah. Alih-alih menjalankan usaha dengan benar, kita menjual atau menyewakan izin yang kita miliki kepada warga asing. Alhasil, jumlah etnis Melayu Brunei yang berhasil menjadi pengusaha yang patut dibanggakan berjumlah kurang dari 10 jemari tangan kita, dibandingkan dengan jumlah usaha-usaha kecil yang ada (terutama ‘kedai runcit‘, tempat cukur rambut, dan tempat penjahitan pakaian). [‘kedai runcit' berarti toko kelontong atau warung dalam Bahasa Indonesia]

Kedai runcti - convenience store

Photo by Anak Brunei

Pemerintah Brunei kini dengan aktif memberikan insentif guna menganekaragamkan ekonomi negara, dan mengembangkan aset sumber daya manusia (SDM). Namun insentif, rencana maupun ide tidak akan maju apabila aset SDM gagal menunjukkan kemajuan. Mungkin salah satu penyebab terhambatnya kemajuan perekonomian Brunei adalah kebudayaan Brunei itu sendiri. Rouge economist memberikan salah satu contoh mental bekerja para etnis Melayu Brunei di tempat kerja mereka:

“Contoh lain mengacu pada mental bekerja para etnis Melayu Brunei. Rutinitas ‘lima kali rehat sehari' membudaya di sektor pemerintahan. Sikap ‘karang tah’ [terjemahan: “Nanti saja”, atau “Saya kerjakan nanti.”] telah merugikan pemerintah jutaan dolar dalam produktivitas bahkan dalam hal peningkatan pendapatan. Alhasil, sektor pemerintahan, dimana etnis Melayu Brunei diprioritaskan, bekerja dengan lambat, tidak efisien dan amat berkelit hingga untuk mengirimkan surat dalam wilayah kecil sekalipun bisa memakan waktu berminggu-minggu, dan untuk mendaftarkan sesuatu bisa memakan waktu berbulan-bulan. (Yang benar saja! Memang berapa jumlah populasi kita?)”

Oleh sebab itu, penting bagi Brunei untuk fokus dalam menciptakan lingkungan efektif yang mampu menyokong produktivitas para etnis Melayu dan sumber daya manusia Brunei pada umumnya. Sebab, kemajuan hanya akan menjadi mimpi di siang bolong apabila mereka yang berada di balik komunitas ekonomi gagal untuk berkiprah.

Mulai topik diskusi

Relawan, harap login »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.