Tutup

Ayo donasi sekarang juga untuk menjaga Global Voices terus kuat!

Kami memberitakan tentang 167 negara. Kami menerjemahkan kedalam 35 bahasa. Kami adalah Global Voices.

Lebih dari 800 kami yang berasal dari seluruh penjuru dunia bekerja sama untuk menghantarkan kisah-kisah yang Anda sulit temukan sendiri. Namun kami tidak bisa melakukan semua itu sendirian. Meski sebagian besar kami adalah relawan, kami masih membutuhkan bantuan Anda untuk mendukung para editor kami, teknologi yang kami gunakan, proyek outreach dan advokasi, dan acara-acara komunitas kami.

Silakan menyumbang kami »
GlobalVoices dalam Ketahui lebih jauh »

India: Reaksi Keras Terhadap Pensensoran Media Sosial

Ini adalah post nomor dua dari dua posting mengenai persepsi dari peran yang dimainkan oleh media sosial dalam buntut dari kekerasan yang terjadi di Assam yang merebak di berbagai kawasan di India dan mengancam kedamaian negara tersebut. Post nomor satu ada disini.

Pemerintah India memblokir SMS massal, MMS, situs-situs dan beberapa URL media sosial yang spesifik dan mengatakan bahwa ini adalah bagian dari usaha mereka mengontrol merebaknya desas-desus dan “terorisme secara cyber”; ada banyak diskusi di media massa tentang bagaimana media sosial cepat menjadi “senjata dua mata” dan bagaimana beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini telah “mengeluarkan secara penuh potensi media masa untuk menimbulkan kerecokan“. Opini media massa ini, sebagian yang mengeluarkan dukungan akan pentingnya media sosial, tidak diabaikan oleh para pengguna Internet. Misalnya, Media Crooks bertanya:

So what’s with the rant against the Twitterati and social media by these media celebs?

Ada apa dengan kritik terhadap kalangan Twitter dan media sosial oleh para selebriti media?

Konfirmasi bahwa akun Twitter di blokir. Gambar dari akun Twitter milik Suraj Jain.

Blogger dengan nama Amrit Hallan menulis di situs Writing Cave apabila media massa memiliki motivasi tersendiri untuk menciptakan desas-desus akan “bahaya” dari media sosial. Ia menulis:

People in the mainstream media have always been at loggerheads with the free spirit of social networking websites that empowers everybody to express opinions and spread ideas…(they) have been gleefully recommending the curtailment (of social media). Social networking and blogging continuously make their job hard. The moment they try to spread some misinformation, it is countered by Twitter or blogs with factually correct information, often posted by people close to the ground.

Orang-orang di media massa sudah lama berbenturan dengan ruh bebas dari situs media sosial yang memberdayakan semua orang untuk mengekspresikan opini dan menyebarkan ide-ide mereka… [orang-orang di media massa] telah dengan senang hati menganjurkan pembatasan [dari media sosial]. Media sosial dan berbagai sarana untuk blogging terus menerus membuat pekerjaan mereka semakin sulit. Pada saat mereka mencoba untuk menyebarkan informasi yang tidak akurat, maka akan cepat disanggah oleh kalangan di Twitter ataupun blog dengan informasi yang akurat dan faktual, seringnya di-posting oleh mereka yang berada di lapangan.

Banyak postingan di Twitter yang mengemukakan kekhawatiran dan perasaan yang sama:

Priya James (@james_priya): I think by now, MSM coverage volumes of ‘social media terrorism’ has now surpassed even their basic coverage of Assam situation!

Priya James (@james_priya): Sepertinya sekarang liputan media massa akan “terrorisme media sosial” telah melampaui liputan mereka akan situasi di Assam!

Gaurav Sabnis (@gauravsabnis): Politician-MSM nexus in India so blatantly clear with blame for NE rumors laid squarely at social media's doors.

Gaurav Sabnis (@gauravsabnis): Hubungan antara media massa dan para politisi di India sudah terlihat secara blak-blakan dengan mereka menyalahkan media sosial akan maraknya desas-desus mengenai situasi di Timur Utara

Rajeev Nagpal (@rajeevnagpal): In #India the #MSM can't tolerate any one challenging their hold. No wonder they support censoring social media #HandsOffTwitter

Rajeev Nagpal (@rajeevnagpal): Di #India #mediamassa tidak dapat mentoleransi seorang pun untuk menentang dominasi mereka. Maka tidak heran mereka mendukung pensensoran media sosial #HandsOffTwitter

Gambar didesain oleh penulis, menggunakan visual dari yang ada di domain publik.

Semuanya terjadi begitu cepat. Para penyedia jasa Internet telah dikirimkan komunikasi secara resmi untuk memblokir situs-situs dan akun pengguna Twitter, termasuk milik beberapa jurnalis dan profil palsu yang diciptakan dengan maksud untuk memparodikan Perdana Mentri India. Anehnya, blogger asal Pakistan, Faraz Ahmed Siddiqui, orang pertama yang menemukan foto-foto yang direkayasa untuk menciptakan kerusuhan, juga kena sensor dan posting miliknya tidak dapat diakses melalui beberapa penyedia jasa Internet.

AEIdeas, sebuah blog milik American Enterprise Institute berkomentar akan masalah ini:

The Indian government ought to have given Mr. Siddiqui a medal for his investigative work. Instead it has blocked his post.

Pemerintah India semestinya memberikan medali penghargaan terhadap Siddiqui akan penyelidikannya. Tetapi malahan memblokir posting miliknya.

Para pengguna media sosial di India telah mengikuti secara cermat berbagai macam aksi pemerintah dan ada banyak debat dan diskusi mengenai apakah pembredelan terhadap media sosial adalah pensensoran kebebasan berbicara atas nama mengontrol penyebaran desas-desus.

Sebagian orang menyebut aksi pemerintah sebagai Orwellian/dystopian. Sebagian lainnya telah melihat manfaat dari “niat” pemerintah untuk mengurangi penyebaran informasi yang menghasut rakyat, tetapi kecewa akan betapa tidak efektifnya cara pemerintah dalam menangani hal tersebut, mereka bertindak bagaikan “suster Internet” dan “memblokir komunikasi, membatasi kebebasan berbicara, dan memblokir situs-situs”.

Di CIS India, Pranesh Prakash menulis analisis informasi di media sosial yang di blokir di India sejak 18 Agustus. Berikut adalah hasilnya:

Analisa dari konten yang di blokir di India oleh Pranesh Prakash dari The Centre for Internet and Society, India. Digunakan dibawah lisensi CC BY-NC 3.0

Reaksi keras terus mengalir di Twitter melalui berbagai hashtag seperti #GOIBlocks, #IndiaBlocks, #Emergency2012 dll. [Ada beberapa debat mengenai penggunaan kata 'Emergency' (darurat) dan usaha untuk menunjukkan kesamaan antara pemblokiran kali ini dan keadaan darurat tahun 1975, dimana terjadi penyekorsan kebebasan sipil dan penangkapan para jurnalis atas nama memerangi ancaman terhadap keamanan nasional].

Indian Rebellion (@reBel1857): today they r blocking ur twitter account, tomorrow ur bank account and then will lock u in ur home … #GOIBlocks #Emergency2012

Indian Rebellion (@reBel1857): Hari ini mereka memblokir akun Twittermu, besok akun bankmu, lalu mereka akan menguncimu dari rumahmu sendiri … #GOIBlocks #Emergency2012

Pranesh Prakash (@pranesh_prakash): If you oppose #censorship, more power to you! I do too. But calling this #Emergency2012 is ridiculous! #IndiaBlocks #netfreedom

Pranesh Prakash (@pranesh_prakash): Kalau kamu menentang #censorship, semoga kekuatan berada di pihakmu! Aku juga. Tetapi memanggil situasi ini #Emergency2012 adalah terlalu! #IndiaBlocks #netfreedom

Madhavan Narayanan @madversity): Social media is a modern challenge and a modern opportunity. Government attempts to police it smacks of outdated feudal style #GOIblocks

Madhavan Narayanan @madversity): Media sosial adalah tantangan dunia modern dan juga kesempatan modern. Usaha pemerintah untuk mempolisi media ini mengingatkan kita akan gaya pemerintahan jaman feodal #GOIblocks

Raheel Khursheed(@Raheelk):  Everything ██ is █████ ████ ████ fine ███ █ ████ love. ████ █████ the ███ UPA ███ ████ Government ██ #GOIBlocks #Twitter

Raheel Khursheed(@Raheelk): Semuanya ██ adalah █████ ████ ████ baik-baik saja ███ █ ████ sayang. ████ █████ si ███ pemerintah ███ ████ UPA ██ #GOIBlocks #Twitter

Sunanda Vashisht (@sunandavashisht): First they ignored us, then they argued with us, then they blocked us #emergency2012

Sunanda Vashisht (@sunandavashisht): Pertama mereka mengabaikan kami, lalu berantem dengan kami, lalu memblokir kami #emergency2012

Babar (@6a6ar): The only thing left for us to do is block all media and Govt. handles in protest. Let's start a #VirtualRevolution #IndiaBlocks

Satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah memblokir semua akun media massa dan pemerintah untuk menunjukkan protes. Mari kita mulai #VirtualRevolution #IndiaBlocks

Abhijit Majumdar (@abhijitmajumder): Govt of #India is just testing #socialmedia waters by blocking spoof PMO accounts. Prepare for greater censorship on #Twitter and #Facebook

Abhijit Majumdar (@abhijitmajumder): Pemerintah #India hanya mengetes air #mediasosial dengan memblokir akun palsu milik kantor Perdana Mentri (PMO). Bersiap-siaplah untuk pensensoran yang lebih luas di #Twitter dan #Facebook.

Amit Agarwal (@labnol): The Indian govt can force ISPs to block individual Twitter profiles but everything will still be available through web apps like Tweetdeck

Pemerintah India bisa memaksa penyedia jasa Internet untuk memblokir akun Twitter secara individu tetapi semuanya tetap bisa diakses melalui aplikasi seperti TweetDeck

Humor dan sarkasme tidak ada habisnya. Misalnya:

Mahesh Murthy (@maheshmurthy): Now that Govt has solved North East crisis by limiting SMS, it will fight malnutrition by banning food pics on Instagram

Mahesh Murthy (@maheshmurthy): Sekarang saat pemerintah telah menyelesaikan krisis di Timur Utara dengan membatasi SMS, maka akan memerangi kekurangan gizi rakyat dengan memblokir foto-foto makanan di Instragam.

Kalyan Varadarajan (@itzkallyhere): My nose blocked. But I didn't poke my nose in Govt matters! My nose isnt a handle. Damn! #GOI

Kalyan Varadarajan (@itzkallyhere): Hidungku mampet. Padahal aku tidak menyosorkan hidungku ke dalam masalah pemerintah! Hidungku kan bukan akun Twitter. Sialan! #GOI

Ramesh Srivats (@rameshsrivats): I've a few SMSs to spare from today's quota. If you mail me recipient's number, message & a cheque, I can send an SMS for you. #BusinessIdea

Ramesh Srivats (@rameshsrivats): Aku ada beberapa kredit SMS tersisa dari kuota hari ini. Kalau kamu kirimkan nomor penerima ke saya, kirimkan cek, dan aku bisa kirimkan SMS untukmu #BusinessIdea

Namun, tidak semua orang merasa terhibur. Amrit Hallan bertanya:

Are we going to follow the footsteps of Pakistan and China and turn into a Blockistan? No matter how much it makes some of the English-speaking mainstream journalists happy, blocking isn’t possible, at least sustained blocking. The Internet has empowered the silent majority and there is going to be a big backlash if the government, or another agency tries to take this power back. In what form this backlash is going to manifest? It remains to be seen.

Apakah kita akan mengikuti jejak langkah Pakistan dan Cina dan berubah menjadi Blockistan? Tidak penting berapa jurnalis media massa berbahasa Inggris yang dibuat senang, pemblokiran tidaklah mungkin, atau setidaknya pemblokiran secara terus-terusan. Internet telah memberdayakan mayoritas rakyat dan akan ada reaksi negatif apabila pemerintah, atau badan pemerintahan lainnya berusaha untuk mengambil kekuatan ini. Dalam bentuk apakah reaksi negatif ini akan tampil? Kita akan lihat.

Dalam tulisan tamu di Trak.In, blogger Prasant Naidu menyarankan bahwa pemerintah bisa menggunakan media sosial secara positif. Ia berkata:

instead of banning social media, the government can use it in its favor controlling the crisis of NE. The virality feature that our politicians are scared of can be used for killing rumors. Can’t the government get in touch with Facebook and Google India to find out ways to use social media in a better way? Can’t the Government start a social media campaign to “Save NE and Save India”?

Twitter is one of the tools that the government can use. A brilliant example is how Nirupama Rao, India’s Foreign Secretary used Twitter during the evacuation of Indians at the time of the Libyan crisis.

Social Media is not rocket science; it is about communicating with humans and for that you need to have the will to evolve and change. Banning social networks is not a solution to combat rumors but it is a half backed measure to cover the lid on the growing tensions.

daripada memblokir media sosial, pemerintah bisa menggunakannya untuk mengkontrol krisis di Timur Utara. Unsur viral yang ditakuti oleh para politisi kita bisa digunakan untuk membunuh desas-desus. Apakah pemerintah tidak bisa menghubungi Facebook dan Google di India untuk mencari tahu cara-cara menggunakan media sosial dengan baik? Apakah pemerintah tidak bisa memulai kampanye media sosial untuk “Selamatkan Timur Utara dan Selamatkan India”.

Twitter adalah salah satu alat yang bisa digunakan oleh pemerintah. Contoh yang paling brilian adalah bagaimana Nirupama Rao, Mentri Luar Negri India menggunakan Twitter dalam mengevakuasi warga India pada saat krisis Libya.

Media sosial bukan ilmu roket; tetapi tentang berkomunikasi dengan manusia dan untuk itu kamu harus memiliki keinginan untuk berkembang dan berubah. Memblokir media sosial bukan solusi untuk memerangi desas-desus tetapi merupakan usaha setengah-setengah untuk menutupi situasi.

Pemerintah, dalam perannya, telah mengeluarkan tata aturan dalam media sosial untuk diikuti oleh berbagai instansi pemerintah. Akan kita lihat bagaimana situasi di lapangan terus berkembang dan apa dampaknya terhadap ketegangan antara pemerintah dan media sosial dalam pengaturan dunia cyber di masa mendatang.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.

 

Wilayah Dunia

Negara

Bahasa