Tutup

Ayo donasi sekarang juga untuk menjaga Global Voices terus kuat!

Kami memberitakan tentang 167 negara. Kami menerjemahkan kedalam 35 bahasa. Kami adalah Global Voices.

Lebih dari 800 kami yang berasal dari seluruh penjuru dunia bekerja sama untuk menghantarkan kisah-kisah yang Anda sulit temukan sendiri. Namun kami tidak bisa melakukan semua itu sendirian. Meski sebagian besar kami adalah relawan, kami masih membutuhkan bantuan Anda untuk mendukung para editor kami, teknologi yang kami gunakan, proyek outreach dan advokasi, dan acara-acara komunitas kami.

Silakan menyumbang kami »
GlobalVoices dalam Ketahui lebih jauh »

Memahami Kekerasan di Myanmar Barat

Posting ini adalah bagian dari liputan khusus Rohingya Myanmar.

Myanmar menjadi berita utama beberapa hari ini karena dua hal: kunjungan bersejarah ke Eropa oleh pemenang Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi, dan kekejaman di negara bagian Rakhine yang terletak di barat negara ini.

Sulit untuk menentukan kelompok mana yang bersalah atas kerusuhan, pembunuhan, dan pembakaran rumah yang terjadi di negara bagian itu dalam dua minggu terakhir ini, tapi para korbannya jelas etnis Rakhine, etnis mayoritas di negara bagian itu, dan etnis Rohingya yang meminta pengakuan di Myanmar.

Menurut laporan pemerintah, total 2,528 rumah terbakar sejak bentrokan dimulai. 1.192 rumah adalah milik etnis Rakhine dan 1.336 rumah milik etnis Rohingya. Laporan itu juga menyebutkan bahwa 29 orang tewas dalam perkelahian—13 orang Rakhine dan 16 orang Rohingya.

Ribuan orang terlantar akibat kekerasan etnis ini. Sejauh ini total ada 37 kamp pengungsi yang menampung 31,884 korban.

Etnis Rohingya seringkali digambarkan oleh media arus utama dan akademisi sebagai ‘kelompok minoritas paling teraniaya di Asia.’ Namun opini di Myanmar terbagi. Bahkan, pemerintah tidak mengakui Rohingya sebagai bagian dari etnis negara itu.

Aung Zaw, editor di Irrawaddy, sebuah majalah alternatif, menuliskan pendapat umum tentang etnis Rohingya

Kesepakatan diantara warga Myanmar, kelihatannya, etnis Rohingya adalah imigran ilegal dari negara tetangga Bangladesh—ada pandangan yang juga memperlakukan hal ini sebagai masalah kedaulatan bukan permusuhan agama.

Bahkan, banyak—khususnya etnis Rakhine—yang marah terhadap penggambaran masalah ini sebagai konflik agama, meskipun banyak yang menggunakan hinaan ras dan agama dalam serangan verbal mereka pada “Suku Bengali,” begitu mereka menyebut etnis Rohingya.

…di jalanan, pendapat umum lebih mendukung pengambilan sikap keras terhadap etnis Rohingya.

Etnis Rohingya sebagian besar adalah Muslim yang membuat banyak orang di luar Myanmar bertanya-tanya apakah ini kasus penganiayaan agama. Tapi berbagai organisasi keagamaan di Myanmar membantah bila ini adalah masalah agama. Mereka mengeluarkan deklarasi ini beberapa hari lalu

1. Konflik di Rakhine tidak berawal sebagai akibat dari konflik agama, melainkan karena tindakan melanggar hukum yang ditetapkan.

2. Semua organisasi keagamaan di Republik Persatuan Myanmar telah hidup berdampingan secara harmonis dengan damai selama bertahun-tahun, dan tetap mempertahankan tradisi baik ini.

4. Kami berjanji untuk melakukan yang terbaik guna mencegah penyebaran kekerasan ini ke bagian lain di Myanmar.

May Thingyan Hein menulis tentang perspektif yang saling bertentangan mengenai kerusuhan di Rakhine

Di internet kerusuhan dipandang dengan perspektif yang berbeda: satu adalah pemerintah memperdaya agar perhatian masyarakat teralih; yang satunya adalah bahwa pemerintah bekerjasama dengan etnis Rakhine untuk memberantas suku Bengali; dan yang terakhir adalah pandangan bila etnis Rohingya berencana menyebabkan ketidakpastian bagi pemerintah dan Daw Aung San Suu Kyi serta meminta otonomi di daerah tersebut.

Kyaw Zwa Moe menyalahkan media sosial karena mengipasi api kebencian dan rasisme

Kenapa ini jadi panas?

Media dan media sosial, tentu saja: Beberapa pengguna internet secara tidak peka memosting gambar dari pembantaian awal di akun Facebook mereka. Ini menyebar dengan cepat dan menggugah pengguna lain untuk berbagi tanggapan emosional

Untunglah, ada suara-suara online moderat yang telah aktif menyerukan perdamaian dan persatuan. Dave Gilbert dan Violet Cho memosting beberapa foto Facebook mempromosikan keharmonisan di negara ini

Foto dari New Mandala

Keterangan gambar aksara Birma:

‘Kami semua mencintai negara kami. Mari kita mencegah masalah yang terjadi. Jangan berselisih karena keyakinan yang berbeda. Biarkan saja orang yang ingin kembali ke era lalu agar kita terus maju.’

Foto dari New Mandala

Peace Warriors terganggu dengan ancaman untuk menyakiti umat Muslim di Yangon, ibukota Myanmar

“Dalam koran yang didistribusikan di Yangon beberapa hari terakhir, orang-orang didesak agar menyerang umat Muslim, masjid-masjid, toko dan rumah mereka. Wanita muslim juga dikhususkan sebagai target. Hal ini membuat umat Muslim dan keturunan India takut pergi bekerja, bahkan keluar sendirian. Beberapa keluarga Muslim menutup toko mereka dan Sekolah serta Universitas Agama Islam tutup dua hari lalu”

Media pemerintah New Light of Myanmar melaporkan kunjungan pejabat pemerintah ke kamp pengungsi

Saat terjadi kerusuhan di negara bagian Rakhine, batalion setempat tiba di tempat kejadian untuk memulihkan keamanan dan stabilitas serta prevalensi hukum dan ketertiban wilayah juga melindungi hidup penduduk setempat tertanggal 8 Juni. Mulai malam itu, batalion setempat menyediakan bantuan seperlunya pada masyarakat setempat. Selain itu, beberapa kapal angkatan laut menjalankan tugas patroli untuk melindungi perairan Myanmar di wilayah barat Maungtaw agar tidak disusupi oleh orang yang tak bertanggungjawab.

Violet Cho menginginkan perspektif yang lebih kritis dalam menganalisa situasi di Rakhine

Kemiskinan dan tindakan represif negara menyebabkan frustasi intens yang tidak memiliki jalan keluar yang mudah dan dapat dilihat sebagai akar penyebab umum dari kekerasan etnis di seluruh dunia.

Bila kita menggalinya, dapat kita lihat bila kekerasan etnis di barat Myanmar berakar pada proses sejarah, sosial, politik, proses budaya dan kelas yang lebih luas dan sangat kompleks. Mungkin kita harus mendefinisikan kembali kategori kuno, seperti ras, dan melihat melalui kacamata alternatif yang dapat membantu mengarahkan ke analisa yang lebih produktif.

Kelompok hak asasi manusia ingin agar Bangladesh dan Myanmar membuka perbatasan mereka dan menerima etnis Rohingya yang melarikan diri dari kekerasan ini. Di bawah ini adalah permohonan dari Asian Human Rights Commission

…agar memungkinkan penyediaan layanan makanan dan kesehatan yang memadai bagi populasi yang terkena dampak, kedua pemerintahan Anda diminta agar saling bekerjasama sehingga mampu memberikan akses yang lengkap, tanpa hambatan, aman untuk lembaga-lembaga internasional pada kesempatan seawal mungkin, agar lembaga-lembaga ini dapat menilai situasi dan membuat kerjasama untuk penyediaan pasokan bantuan keadaan darurat yang diperlukan.

Yang cukup mengejutkan banyak aktivis dan orang-orang media di luar Myanmar, pejabat veteran dari oposisi Kelompok Mahasiswa Generasi 88 mengeluarkan pernyataan yang meneguhkan sikap pemerintah mengenai tidak diakuinya etnis Rohingya sebagai warga Myanmar.

Ko Ko Gyi: Kecuali tak bisa dihindari, kami mencoba untuk menghindari beberapa masalah dengan sabar. Sekarang saatnya kami umumkan pandangan kami terhadap Rohingya dengan jelas. Rohingya sama sekali bukan salah satu kelompok etnis Myanmar. Kami memandang kerusuhan yang terjadi saat ini di Buthedaung dan Maungdaw di negara bagian Rakhine disebabkan oleh imigran ilegal dari Bangladesh yang disebut “Rohingya” dan provokasi licik dari beberapa komunitas internasional. Karena itu, upaya campur tangan semacam itu oleh beberapa negara adidaya tentang masalah ini (masalah Rohingya), tanpa sepenuhnya memahami kelompok etnis dan situasi lainnya di Myanmar, akan dipandang menyinggung kedaulatan bangsa kita.

Karena tak ada negara yang mau menerima mereka, kami merasa simpati terhadap mereka atas dasar kemanusiaan dan pengungsi. Dengan memanfaatkan kebaikan dan sikap hormat kami, bila negara-negara adidaya memaksa kami untuk bertanggungjawab atas masalah ini, kami takkan pernah terima.

Beberapa aktivis bertanya apakah Suu Kyi, yang mendesak penerapan aturan hukum dalam menyelesaikan masalah di Rakhine, berbagi posisi serupa dengan Kelompok Mahasiswa Generasi 88.

Pemerintah Myanmar mengklaim situasi sekarang di Rakhine telah terkendali. Tapi penderitaan di desa-desa Rohingya terus memburuk tiap hari.

Posting ini adalah bagian dari liputan khusus Rohingya Myanmar.

Mulai Percakapan

Relawan, harap log masuk »

Petunjuk Baku

  • Seluruh komen terlebih dahulu ditelaah. Mohon tidak mengirim komentar lebih dari satu kali untuk menghindari diblok sebagai spam.
  • Harap hormati pengguna lain. Komentar yang tidak menunjukan tenggang rasa, menyinggung isu SARA, maupun dimaksudkan untuk menyerang pengguna lain akan ditolak.

 

Wilayah Dunia

Negara

Bahasa